Implementasi baby spa dalam meningkatkan berat badan dan tinggi badan bayi
DOI:
https://doi.org/10.58439/bsn.v2i1.81Keywords:
Berat badan, Tinggi badan, baby spaAbstract
Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia menyatakan prevalensi angka stunting menurut kota/kabupaten di provinsi Jawa Barat paling tinggi di Kabupaten Garut sebesar 35,2% dan paling rendah Kota Depok 12,3%, untuk Kabupaten Bekasi sebesar 21,5%. Berdasarkan kelompok umur angka stunting tertinggi pada umur 36-47 bulan sebesar 6%, umur 24-35 bulan 4,6%, umur 18-23 bulan 3,6%, umur 6- 11 bulan 1,6% dan paling rendah kelompok umur 0-5 bulan sebesar 0,7% Pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal dapat dilakukan dengan stimulasi. Stimulasi dapat diberikan melalui stimulasi taktil secara aktif pada bayi, yang salah satunya adalah dengan pijat, solus per aqua (SPA) dengan pijat bayi kemampuan gerak bayi akan lebih optimal. Pijat bayi sebagai pilihan cara deteksi dini terhadap kelainan pertumbuhan dan perkembangan Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan pemahaman ibu terkait pentingnya manfaat baby spa untuk penambahan berat badan dan tinggi badan bayi dan melihat perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan Baby SPA Treatment terhadap Peningkatan pertumbuhan dan perkembangan motorik bayi usia 6-11 bulan yang beresiko stunting. Metode edukasi yang dilakukan adalah pemaparan materi dengan diskusi yang dilanjutkan dengan demonstrasi/simulasi pemijatan dan baby spa. Sasarannya adalah 30 bayi yang memeriksakan kesehatannya di Posyandu GCC 2 wilayah kerja Puskesmas Kedungwaringin Kabupaten Bekasi, dimana untuk kelompok Baby SPA dengan perlakuan sebanyak 15 bayi dan kelompok kontrol sebanyak 15 bayi. Berdasarkan hasil pengolahan data didapatkan bahwa terdapat rerata penambahan berat badan yaitu 365 gram. Kemudian untuk panjang bayi terdapat penambahan panjang badan bayi 1,6 cm setelah dilakukan spa bayi daripada bayi yang dilakukan massage. Diharapkan dengan melakukan stimulasi secara Baby SPA, mampu merangsang peningkatan pengeluaran hormone pertumbuhan, meningkatkan metabolisme, peningkatan nafsu makan bayi sehingga pertumbuhan bayipun meningkat.
References
Kementerian Kesehatan. (2021). Profil Kesehatan Indonesia 2020. In Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2017). Peta Jalan Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. Kementerian PPN/Bappenas. https://sdgs.bappenas.go.id/wpcontent/uploads/2021/02/Roadma p_ Bahasa-Indonesia_FileUpload.pdf
Na’mah, L. U., & Kusumastuti. (2019). Efektifitas Baby Massage dan Baby Gym terhadap Perkembangan Bayi 3-6 bulan. Jurnal Ilmu Kesehatan, 12(1).
P2PTM Kemenkes RI. (2018). 1 dari 3 Balita Indonesia Derita Stunting. http://p2ptm.kemkes.go.id/tag/1- dari-3-balita-indonesia-deritastunting
Prastiani, D. B., & Setyanigrum, I. (2017). Hubungan Frekuensi Baby Spa dengan Pertumbuhan Fisik Bayi Usia 6-12 Bulan. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 4(1), 80–84. http://nursingjurnal.respati.ac.id/i ndex.php/JKRY/article/view/87
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2012 (diunduh 22 Maret 2018). Tersedia dari: http://chnrl.org/pelatihan-demografi/SDKI-2012.pdf.
Setiawan D. Pengaruh Baby Spa (Solus Per Aqua) Terhadap Pertumbuhan Bayi Usia 3-4 Bulan. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Tim Galenia Mcc. Home Baby Spa. Jakarta Penerbit Plus. 2014;
World Aquatic Babies & Children Network. (2016). Guidelines on Operation of Aquatic Programs for Children Under Three Years of Age. https://www.wabcswim.com/A08G uidelinesForPrograms.htm



